Kamis, 14 Juni 2012

18 Januari 2012


Kami bener-bener nggak sabar hari ini! So excited! Kami akan mengunjungi berbagai situs-situs sejarah Philadelphia. Yup, Philly memang dikenal dengan sejarahnya yang mana merupakan kota pertama tempat lahirnya Declaration of Independence. Kami diberi kesempatan untuk mengunjungi Libery Bell, Independence Hall, makan siang di City Tavern, dan yang terakhir National Constitution Center.
Liberty Bell

                Tempat yang kami kunjungi pertama kali adalah Liberty Bell, sebuah lonceng yang menandakan kebebasan tidak hanya untuk warga Amerika tetapi juga untuk seluruh dunia. Sebelum saya ceritakan semuanya, saya harus berkata bahwa kami semua kagum dengan kinerja pemerintah yang telah melestarikan situs sejarah dengan sangat baik. Tidak hanya dipelihara, tetapi pemerintah juga menyertakan berbagai informasi menarik di tepat tersebut.
                Liberty Bell menceritakan cerita tentang kebebasan. Isu terbesar yang dihadapi adalah masalah perbudakan, namun liberty bell juga digunakan untuk menandakan kebebasan wanita dari diskriminasi gender, kemudian isu agama, dan lain sebagainya. Liberty Bell, lonceng yang mendentingkan suara keadilan, kebebasan, dan persamaan. Sebuah lonceng yang menyadarkan kita untuk pada akhirnya melakukan sesuatu yang benar. Di abad ke 17, mungkin kita tidak akan pernah menyadari bahwa perbudakan itu salah. Kita hanya akan berpikir, memang sudah seperti itu adanya, kita tidak pernah berpikir itu salah dan kita bisa terbebas darinya. Butuh waktu, tenaga , dan perjuangan untuk menyadari betapa kejamnya perbudakan itu. Kami mendengarkan cerita dari Liberty Bell, dan somehow terkagum. Kita memiliki kebebasan, kita telah diberi kebebasan, tetapi kita butuh usaha untuk mendapatkannya.
Free tour guide! 
                Selanjutnya kita menuju ke Independence Hall, itu adalah tempat dimana para pendiri bangsa Amerika Serikat berkumpul, bermusyawarah untuk perancangan Declaration of Independence (semacam UUD 1945 di Indonesia). Sekali lagi kami kagum dengan pelestarian situs bersejarah ini, bahkan ada tour guide dari pemerintah yang ada di sana untuk memberikan penjelasan tentang ruangan-ruangan yang ada sekaligus menceritakan tentang sejarah. Luar biasa bukan?
                Kami masih memiliki bagian terbaiknya, yap makan siang di City Tavern. City Tavern bukan tempat makan biasa itu adalah restoran yang katanya sudah ada sejak tahun 1700an dimana para perumus Declaration of Independece kunjungi setelah bermusyawarah tanpa henti di Independence Hall. Bahkan konon katanya masakan yang disajikan disana merupakan favorit para founding fathers ini dan kami menikmati rasa dan resep makanan yang sama! Wow!
National Constitution Center from the outside
                Belum berhenti di sana, kami mengunjungi National Constitution Center, sebuah tempat modern untuk mempelajari konstitusi Amerika Serikat. Kami mendapat pengalaman pertama kami menyaksikan film yang dikemas bersamaan dengan narasi (seperti cerita). Tempat itu seperti sebuah stadion, dengan panggung ditengah dan seorang pendongeng (narrator) menceritakan sekilas tentang perjalanan sejarah Amerika Serikat menuju kemerdekaannya dengan dinding yang menjadi layar bioskop untuk menampilkan sekilas potongan-potongan film. Dari sini saya mendapatkan bagaimana kita juga harus berusaha mem-“paket”kan sebuah sejarah sejalan dengan modernitas masa kini agar orang-orang tertarik untuk belajar sejarah dan memahami makna sejarah.
Gentlemen, the one in the front is Benjamin Franklin
                Setelah menyaksikan film luar biasa tersebut, kami masuk ke museum modern mereka, dimana seluruh sejarah tentang konstitusi Amerika Serikat ada di dalam TV , computer, layar touch screen dan berbagai peralatan canggih teknologi kini. Luar biasa, ada sebuah mesin yang mampu menceritakan sejarah kepada kita melalui audio, ada pula semacam game interaktif.  Sayangnya, kami tidak memiliki banyak waktu untuk menikmati seluruh isi museum, tapi kami masih punya waktu untuk berfoto dengan Benjamin Franklin, George Washington, dan pendiri bangsa yang lain.
                Yah, mereka ada di sana setiap saat membatu. Mereka diukir dengan tembaga, dan pihak National Constitution Center berusaha menggambarkan mereka semirip mungkin melalui mimik wajah yang disesuaikan dengan kepribadian mereka, sungguh luar biasa! Tapi perjalanan ini pun harus berakhir.
                Kami kembali ke Temple University dan jika kami sudah mempelajari lebih dalam tentang Negara Amerika Serikat, kami sekarang akan lebih memahami Negara kami sendiri, Indonesia, lebih spesifik lagi kami akan mendalami provinsi kami masing-masing. Kami dibagi ke dalam beberapa grup sesuai dengan provinsi kami dan kami diminta untuk bisa menganalisis dan mempresentasikan masalah yang ada di provinsi kami, terutama terkait dengan isu keagamaan. Yap, kami juga melakukan tugas di sana, teman. 
Go Temple Go Temple!
                Tapi ada tawaran menggiurkan, kami diperbolehkan untuk melihat secara langsung pertandingan basket mahasiswa Amerika Serikat di sana. Beberapa dari kami menonton, yang lain memilih untuk istirahat. Teman-teman kami yang menonton mengatakan pertandingannya sangat seru dan mahasiswa cowok Temple menang! Yey, kita jelas memihak Temple sebab kami tinggal dan menjadi mahasiswa Temple selama 4 minggu. Bisa dibayangkan bagaimana pengalaman ini sungguh luar biasa, stadion, hiruk pikuk penonton serta suasana pertandingan basket Amerika Serikat yang biasanya ditonton di film-film dapat mereka alami sendiri.
                Di sini, di Philadelphia, mimpi-mimpi kami menjadi kenyataan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar