Senin, 09 Juli 2012

19 Januari 2012


 Time for workshop! Setelah berkumpul dengan sesama anggota per wilayah,kami akan dibekali beberapa skill untuk melakukan dialog dan menjalankan action plan! Hmm..apaan sih action plan itu? Ngapain aja ya?
Prof. Leonard Swidler
Workshop pertama kami ini untuk mengembangkan kemampuan leadership, dan pengenalan singkat tentang Dialogue Decalogue (besutan Prof. Swidler), yang mana menyangkut apa sih syarat serta tata cara untuk melakukan dialog dengan baik dan benar sehingga tujuan dialog dapat tercapai ( wait for it guys, we will post it soon!) berjumlah 10 butir.
Setelah mendengarkan lecture, kami mulai diberikan “pengumuman” bahwa kami , 20 SUSI-ers ini diharapkan setelah sepulang dari Amerika Serikat dapat melakukan sebuah Action Plan alias projek untuk diterapkan di Indonesia. Tentu saja Staff sangat membantu agar action plan kami nanti nggak sekedar angan-angan tapi benar-benar bisa terlaksana!
Kita tinggal mengantri, kasih identity kita, which is paspor, setelah itu langsung foto di tempat, tunggu 5-10 menit, jadi deh kartunya! Cepet banget ya! Kita beneran takjub! Setelah dapet guest card, mulailah kita menjelajah berbagai food truck yang ada di sana, mulai dari pizza, Chinese food, Korean, burger, nasi, hmm… yang mana ya? :D
The Food Truck! 
Setelah melakukan workshop, kami diminta mengisi survey menyangkut isu-isu toleransi beragama. Guys, sadar atau nggak setiap kita mengisi sebuah survey pasti kita akan merefleksikan diri kita dan kehidupan kita, betul nggak?
Nah, setelah pengisian survey kita dapet jam bebas untuk makan nih! Tapi sebelum itu ada sebuah kejutan kecil, kita bakal dapet Guest Card Temple University! Waw! It means, kita bisa nikmatin privilege sebagai anggota Temple University dengan guest card tersebut. Pembuatan kartu di sana cepeet bangeet! Cuman sekitar 10 menit! WOW!
Setelah mengisi perut yang kelaparan, kami kembali melakukan workshop dimana workshop kali ini akan diajarkan oleh Ms. Mary James Edward! She’s African American, kenapa penulis sebutkan? Bukan untuk rasis, tapi menunjukkan identitas dan kehebatan beliau sebagai seorang African American.
Yap, Workshop kali ini tentang Identity and Diversity Training. Suatu workshop yang penting sekali, dan dari sini banyak sekali kesan yang kami dapatkan tentang diri kami sekaligus kami benar-benar dapat saling mengenal dengan teman-teman kami yang lainnya.

Lihat gambar di atas? Lihat betapa indahnya apabila kita semua berpikiran seperti anak kecil itu. Mengapa kita harus membedakan seseorang, mereka sama halnya manusia dengan diri kita sendiri! Oleh Ms. Mary James Edwards kami diberi pengantar untuk menyadari pentingnya identitas. Bagaimana dengan identitas kita dapat mencintai diri kita sendiri, suatu hal yang sering kali kita lupakan, namun itulah hal yang paling penting dalam hidup ini!

Ms. Mary bercerita bagaimana dirinya saat kecil diberikan banyak pengaruh oleh orang tuanya tentang orang berkulit putih. Ya, berbagai stereotip yang kurang bagus untuk didengar yang membuat Ms. Mary sebagai anak kecil percaya akan apa kata orang tua beliau. Segalanya berubah ketika beliau memutuskan untuk masuk ke sebuah perguruan tinggi dimana kaum African American merupakan minoritas. Di sanalah beliau mengalami pengalaman luar biasa, dimana seluruh stereotip yang orang tuanya berikan ternyata tidak beliau alami. Beliau tidak melihat alasan untuk membenci orang kulit putih. Stereotip, sangat jahat kawan, stereotip adalah ketika kita melabeli suatu ras, etnik, agama, gender dengan suatu kata sifat tanpa melihat kenyataan yang ada.
Oleh karena itu kami diminta untuk mengidentifikasikan diri kami sendiri berdasarkan suatu personalitas, gender, agama, ras, dsb. Boleh temen2 coba! Coba temen2 identifikasikan diri temen-temen dari berbagai aspek, misalnya saja, dari daerah mana, suku mana, agama apa, anggota apa, personalitas apa, lahir di keluarga bagaimana, penggemar apa, dsb.
Sudah? Nah setelah itu kami diminta untuk menuliskan :
1.       Mengapa kita bangga beridentitaskan dalam grup tersebut? ( misalnya bangga sebagai seorang wanita)
2.       Apakah ada pengalaman yang menyakitkan/ menyedihkan yang anda alami ketika anda beridentitaskan dalam grup tersebut? (misalnya, anda diremehkan karena anda wanita)
3.       Apa yang orang lain sering stereotipkan pada identitas anda? ( misalnya, wanita itu lemah)
4.       Apa yang anda harapkan tidak orang lain katakan kepada anda sebagai identitas dalam grup tersebut ( misalnya, anda berharap dunia tidak lagi mengatakan wanita itu lemah)

Perasaan yang penulis rasakan ketika mempresentasikan identitas diri penulis, penulis merasa bangga sekaligus menyadari bahwa penulis pun pernah tersakiti oleh stereotip ( jika tidak menyadari, dapat menimbulkan perasaan dendam loh kawan), penulis juga merasa lega karena penulis dapat mengatakan kepada orang lain bahwa penulis tidak mau distereotipkan seperti itu. Selain itu penulis merasa luar biasa mendengar presentasi dari temen-temen yang lain karena penulis dapat benar-benar memahami teman penulis lebih baik lagi.

Kawan, pengalaman hari ini luar biasa. Kami sangat bahagia, kami tertawa dan menangis bersama. Dan pada penutup sesi ini, kami disadarkan kekuatan dari SATU orang. Satu orang dapat membawa perubahan bagi seluruh dunia, jangan pernah kalian remehkan the power of ONE.
Sadari identitas kalian, kenali lebih jauh diri kita sendiri, cintai diri kita sendiri, belajar dan kenalilah orang lain sebelum anda menstereotipkan seseorang dengan label tertentu.
Setelah mengikuti workshop kami pun masih harus lembur bekerja untuk presentasi besok, kami akan mempresentasikan apa saja tantangan isu-isu keagamaan di wilayah kami dan apa yang bisa kami lakukan ( alias action plan) di wilayah kami. Stay tune! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar