Time for workshop! Setelah berkumpul dengan
sesama anggota per wilayah,kami akan dibekali beberapa skill untuk melakukan
dialog dan menjalankan action plan! Hmm..apaan sih action plan itu? Ngapain aja
ya?
| Prof. Leonard Swidler |
Workshop
pertama kami ini untuk mengembangkan kemampuan leadership, dan pengenalan
singkat tentang Dialogue Decalogue (besutan Prof. Swidler), yang mana
menyangkut apa sih syarat serta tata cara untuk melakukan dialog dengan baik
dan benar sehingga tujuan dialog dapat tercapai ( wait for it guys, we will
post it soon!) berjumlah 10 butir.
Setelah
mendengarkan lecture, kami mulai diberikan “pengumuman” bahwa kami , 20
SUSI-ers ini diharapkan setelah sepulang dari Amerika Serikat dapat melakukan
sebuah Action Plan alias projek untuk diterapkan di Indonesia. Tentu saja Staff
sangat membantu agar action plan kami nanti nggak sekedar angan-angan tapi
benar-benar bisa terlaksana!
Kita
tinggal mengantri, kasih identity kita, which is paspor, setelah itu langsung
foto di tempat, tunggu 5-10 menit, jadi deh kartunya! Cepet banget ya! Kita
beneran takjub! Setelah dapet guest card, mulailah kita menjelajah berbagai
food truck yang ada di sana, mulai dari pizza, Chinese food, Korean, burger,
nasi, hmm… yang mana ya? :D
![]() |
| The Food Truck! |
Nah,
setelah pengisian survey kita dapet jam bebas untuk makan nih! Tapi sebelum itu
ada sebuah kejutan kecil, kita bakal dapet Guest Card Temple University! Waw!
It means, kita bisa nikmatin privilege sebagai anggota Temple University dengan
guest card tersebut. Pembuatan kartu di sana cepeet bangeet! Cuman sekitar 10
menit! WOW!
Setelah
mengisi perut yang kelaparan, kami kembali melakukan workshop dimana workshop
kali ini akan diajarkan oleh Ms. Mary James Edward! She’s African American,
kenapa penulis sebutkan? Bukan untuk rasis, tapi menunjukkan identitas dan
kehebatan beliau sebagai seorang African American.
Yap,
Workshop kali ini tentang Identity and Diversity Training. Suatu workshop yang
penting sekali, dan dari sini banyak sekali kesan yang kami dapatkan tentang
diri kami sekaligus kami benar-benar dapat saling mengenal dengan teman-teman
kami yang lainnya.
Lihat
gambar di atas? Lihat betapa indahnya apabila kita semua berpikiran seperti
anak kecil itu. Mengapa kita harus membedakan seseorang, mereka sama halnya
manusia dengan diri kita sendiri! Oleh Ms. Mary James Edwards kami diberi
pengantar untuk menyadari pentingnya identitas. Bagaimana dengan identitas kita
dapat mencintai diri kita sendiri, suatu hal yang sering kali kita lupakan,
namun itulah hal yang paling penting dalam hidup ini!
Ms.
Mary bercerita bagaimana dirinya saat kecil diberikan banyak pengaruh oleh
orang tuanya tentang orang berkulit putih. Ya, berbagai stereotip yang kurang
bagus untuk didengar yang membuat Ms. Mary sebagai anak kecil percaya akan apa
kata orang tua beliau. Segalanya berubah ketika beliau memutuskan untuk masuk
ke sebuah perguruan tinggi dimana kaum African American merupakan minoritas. Di
sanalah beliau mengalami pengalaman luar biasa, dimana seluruh stereotip yang
orang tuanya berikan ternyata tidak beliau alami. Beliau tidak melihat alasan
untuk membenci orang kulit putih. Stereotip, sangat jahat kawan, stereotip
adalah ketika kita melabeli suatu ras, etnik, agama, gender dengan suatu kata
sifat tanpa melihat kenyataan yang ada.
Oleh
karena itu kami diminta untuk mengidentifikasikan diri kami sendiri berdasarkan
suatu personalitas, gender, agama, ras, dsb. Boleh temen2 coba! Coba temen2
identifikasikan diri temen-temen dari berbagai aspek, misalnya saja, dari
daerah mana, suku mana, agama apa, anggota apa, personalitas apa, lahir di
keluarga bagaimana, penggemar apa, dsb.
Sudah?
Nah setelah itu kami diminta untuk menuliskan :
1.
Mengapa
kita bangga beridentitaskan dalam grup tersebut? ( misalnya bangga sebagai
seorang wanita)
2.
Apakah ada
pengalaman yang menyakitkan/ menyedihkan yang anda alami ketika anda
beridentitaskan dalam grup tersebut? (misalnya, anda diremehkan karena anda
wanita)
3.
Apa yang
orang lain sering stereotipkan pada identitas anda? ( misalnya, wanita itu
lemah)
4.
Apa yang
anda harapkan tidak orang lain katakan kepada anda sebagai identitas dalam grup
tersebut ( misalnya, anda berharap dunia tidak lagi mengatakan wanita itu
lemah)
Perasaan
yang penulis rasakan ketika mempresentasikan identitas diri penulis, penulis
merasa bangga sekaligus menyadari bahwa penulis pun pernah tersakiti oleh
stereotip ( jika tidak menyadari, dapat menimbulkan perasaan dendam loh kawan),
penulis juga merasa lega karena penulis dapat mengatakan kepada orang lain
bahwa penulis tidak mau distereotipkan seperti itu. Selain itu penulis merasa
luar biasa mendengar presentasi dari temen-temen yang lain karena penulis dapat
benar-benar memahami teman penulis lebih baik lagi.
Kawan,
pengalaman hari ini luar biasa. Kami sangat bahagia, kami tertawa dan menangis
bersama. Dan pada penutup sesi ini, kami disadarkan kekuatan dari SATU orang.
Satu orang dapat membawa perubahan bagi seluruh dunia, jangan pernah kalian
remehkan the power of ONE.
Sadari
identitas kalian, kenali lebih jauh diri kita sendiri, cintai diri kita
sendiri, belajar dan kenalilah orang lain sebelum anda menstereotipkan
seseorang dengan label tertentu.
Setelah
mengikuti workshop kami pun masih harus lembur bekerja untuk presentasi besok,
kami akan mempresentasikan apa saja tantangan isu-isu keagamaan di wilayah kami
dan apa yang bisa kami lakukan ( alias action plan) di wilayah kami. Stay tune!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar