Kamis, 19 April 2012

15 Januari 2012

                  Kalau hari pertama kita melakukan perkenalan 20 mahasiswa Indonesia atau peserta SUSI, hari ini kami akan mengenal lebih jauh tentang staf dari Dialogue Institute maupun ICCE. Dari perkenalan tersebut kami benar-benar kagum dengan prestasi serta kapasitas mereka sebagai staf pengajar. Para staf ini pun sudah merepresentasikan pluralisme agama dari beragamnya agama yang mereka anut, mulai dari agama Yahudi, Islam, dan Kristen dari berbagai denominasi / aliran. Melalui institusi yang mereka buat mereka mengabdikan diri untuk terus mempromosikan kedamaian, pluralisme agama, dan dialog di dunia ini. Benar, mendunia, bukan hanya di Amerika Serikat, mereka mengundang orang- orang Indonesia dan juga mengundang para mahasiswa dari Timur Tengah demi mempromosikan kedamaian.
                Setelah itu kami mulai masuk ke sesi serius, dimana Professor kami yang sangat kami cintai, Professor Leonard Swidler ( benar – benar professor top! Coba search di google! ) memperkenalkan kami tentang apa sih definisi agama, pluralisme dan dialog. Melalui penjelasan yang beliau berikan, kami mulai menemukan titik terang tentang subjek ini. Professor Len telah mendalami berbagai ajaran dari bermacam kepercayaan seperti Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, termasuk Ateis.  Berdasar dari pengetahuan serta pengertian beliau, beliau mampu menggarisbawahi persamaan-persamaan dari tiap kepercayaan yang nantinya melahirkan pluralisme agama. Kalau di Indonesia “Ateis” benar benar dianggap tabu, namun disini kami ditantang untuk membuka pikiran dan hati kami untuk bersedia mengetahui, tanpa menjadi Ateis bagaimana pandangan seorang Ateis.
Professor Leonard Swidler
                Sabar guys, ini baru awal, para staf pun membawa kami ke St. James Memorial United Methodist Church dimana ada suatu event menyambut MLK (Martin Luther King, salah satu tokoh penting di AS, coba google deh) day of service, atau hari pelayanan dalam memperingati hari MLK dengan melakukan Interfaith Worship Service ( acara lintas agama) dimana benar – benar menampilkan pluralisme agama sampai ke tahap pemujaan / worship bersama. 
 
                Pernahkah kalian membayangkan seorang muslim masuk ke dalam gereja? Inilah yang kami alami, teman-teman muslim kami , termasuk yang memakai jilbab, memasuki gereja dengan penuh sambutan hangat serta ungkapan “Nice to meet you” dari umat gereja tersebut. Tak hanya kami, memang melalui acara ini diharapkan semua pemeluk agama dapat datang dan mengikuti acara ini, baik Muslim, Yahudi, Kristen dari denominasi lain, ataupun agama lain. Isi dari pelayanan itu adalah doa yang dipanjatkan dari seorang Imam ( yang sayangnya batal hadir), kemudian pidato dari beberapa tokoh seperti Pendeta maupun Rabi Yahudi, juga diikuti nyanyian yang disumbangkan oleh umat Yahudi dan nyanyian dari umat gereja. Indah sekali. Sungguh. Jika anda bertanya pada kami, memangnya ada pluralisme agama? Kami jelas akan jawab, ya ada. Karena kami telah menyaksikan dan berada di tempat itu sendiri. 
                Setelah mengikuti perayaan tersebut, kami pun mengobrol dan bertukar pendapat dengan seluruh umat yang hadir di sana dengan makanan kecil. Sambutan serta obrolan kami semua sangat hangat, berarti dan patut dikenang. Orang Amerika bagi kami sangat ramah dan terbuka. Mereka bertanya tentang kehidupan kami di Indonesia, juga memberikan informasi mengenai Philadelphia, bahkan menawarkan diri untuk menjadi tour guide gratis! Bisa dijadikan contoh teman! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar