Kalau hari pertama kita melakukan perkenalan 20 mahasiswa
Indonesia atau peserta SUSI, hari ini kami akan mengenal lebih jauh tentang
staf dari Dialogue Institute maupun ICCE. Dari perkenalan tersebut kami
benar-benar kagum dengan prestasi serta kapasitas mereka sebagai staf pengajar.
Para staf ini pun sudah merepresentasikan pluralisme agama dari beragamnya
agama yang mereka anut, mulai dari agama Yahudi, Islam, dan Kristen dari
berbagai denominasi / aliran. Melalui institusi yang mereka buat mereka
mengabdikan diri untuk terus mempromosikan kedamaian, pluralisme agama, dan
dialog di dunia ini. Benar, mendunia, bukan hanya di Amerika Serikat, mereka
mengundang orang- orang Indonesia dan juga mengundang para mahasiswa dari Timur
Tengah demi mempromosikan kedamaian.
Setelah
itu kami mulai masuk ke sesi serius, dimana Professor kami yang sangat kami
cintai, Professor Leonard Swidler ( benar – benar professor top! Coba search di
google! ) memperkenalkan kami tentang apa sih definisi agama, pluralisme dan
dialog. Melalui penjelasan yang beliau berikan, kami mulai menemukan titik
terang tentang subjek ini. Professor Len telah mendalami berbagai ajaran dari
bermacam kepercayaan seperti Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, termasuk
Ateis. Berdasar dari pengetahuan serta
pengertian beliau, beliau mampu menggarisbawahi persamaan-persamaan dari tiap
kepercayaan yang nantinya melahirkan pluralisme agama. Kalau di Indonesia
“Ateis” benar benar dianggap tabu, namun disini kami ditantang untuk membuka
pikiran dan hati kami untuk bersedia mengetahui, tanpa menjadi Ateis bagaimana
pandangan seorang Ateis.
| Professor Leonard Swidler |
Sabar
guys, ini baru awal, para staf pun membawa kami ke St. James Memorial United
Methodist Church dimana ada suatu event menyambut MLK (Martin Luther King,
salah satu tokoh penting di AS, coba google deh) day of service, atau hari
pelayanan dalam memperingati hari MLK dengan melakukan Interfaith Worship
Service ( acara lintas agama) dimana benar – benar menampilkan pluralisme agama
sampai ke tahap pemujaan / worship bersama.
Pernahkah
kalian membayangkan seorang muslim masuk ke dalam gereja? Inilah yang kami
alami, teman-teman muslim kami , termasuk yang memakai jilbab, memasuki gereja
dengan penuh sambutan hangat serta ungkapan “Nice to meet you” dari umat gereja
tersebut. Tak hanya kami, memang melalui acara ini diharapkan semua pemeluk
agama dapat datang dan mengikuti acara ini, baik Muslim, Yahudi, Kristen dari
denominasi lain, ataupun agama lain. Isi dari pelayanan itu adalah doa yang
dipanjatkan dari seorang Imam ( yang sayangnya batal hadir), kemudian pidato
dari beberapa tokoh seperti Pendeta maupun Rabi Yahudi, juga diikuti nyanyian
yang disumbangkan oleh umat Yahudi dan nyanyian dari umat gereja. Indah sekali.
Sungguh. Jika anda bertanya pada kami, memangnya ada pluralisme agama? Kami
jelas akan jawab, ya ada. Karena kami telah menyaksikan dan berada di tempat
itu sendiri.
Setelah
mengikuti perayaan tersebut, kami pun mengobrol dan bertukar pendapat dengan
seluruh umat yang hadir di sana dengan makanan kecil. Sambutan serta obrolan
kami semua sangat hangat, berarti dan patut dikenang. Orang Amerika bagi kami
sangat ramah dan terbuka. Mereka bertanya tentang kehidupan kami di Indonesia,
juga memberikan informasi mengenai Philadelphia, bahkan menawarkan diri untuk
menjadi tour guide gratis! Bisa dijadikan contoh teman!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar