Berangkat
12 Januari sore hari dari Indonesia, 20 mahasiswa Indonesia ini menempuh
perjalanan ke Amerika Serikat tanpa pendamping dan dengan berani mulai mengenal
teman-teman Indonesia lain selama kurang lebih 24 jam lamanya di udara dan 24
jam di bandara. Pengalaman menempuh 2 hari perjalanan bersama orang yang tidak
benar-benar kenal baik dan juga pengalaman kehilangan “siang hari” ( karena
perbedaan waktu kami berangkat dari Jepang sore hari dan sampai di Amerika
Serikat sore hari lagi) .
Kelelahan dan jet lag pun hilang ketika akhirnya kami
berhasil menginjakkan kaki ke negeri Paman Sam tepatnya di Philadelphia,
Pennsylvania, tempat di mana kami akan menghabiskan 4 minggu di sana meskipun
kami disambut dengan hawa musim dingin (winter) yang dinginnya benar-benar di
luar dugaan dan baru bagi kami. Udara di sana sangat kering sehingga bibir dan
kulit menjadi pecah-pecah bahkan bisa berdarah dan kalau teman-teman penasaran
gimana rasanya hawa musim dingin, boleh dicoba dengan masuk ke dalam kulkas
sedingin 3 derajat celcius .
Kita bahkan merasakan dinginnya winter hingga -3 derajat. Luar biasa. Senang, terkagum-kagum dengan suasanan dan keadaan di sana juga perasaaan tidak percaya terus mengembangkan senyum di bibir kami. Setiba di airport, 13 Januari 20.20 waktu setempat kami disambut oleh 2 staf dari Dialogue Institute dan ICCE. Dr. Julie dan Mr. Per yang benar-benar ramah, hangatnya senyum serta tawa mereka membuat kami merasa sudah diterima sebagai keluarga besar mereka. Kami menginap di penginapan yang terletak di dalam lingkup Temple University yang mana merupakan host dari acara kami. Kegiatan lecture dan discussion dilaksanakan di Temple University, salah satu universitas negeri di Philadelphia yang cukup besar dan terkenal.
Tahukah kamu
bahwa nama Gus Dur diabadikan menjadi salah satu nama ruangan di Temple
University berkat kapasitas beliau sebagai Bapak Pluralisme?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar